Kabar duka yang mendalam menyelimuti seluruh masyarakat adat maupun warga luas di Provinsi Banten, seiring berpulangnya salah satu tokoh adat paling terkemuka dan disegani, yakni Jaro Saidi Putra, yang selama ini memegang peran vital sebagai Tanggungan 12 di wilayah adat Baduy, Kabupaten Lebak, dalam usia senjanya.
1. Kehilangan Besar bagi Tatanan Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Baduy
Kepergian Jaro Saidi Putra meninggalkan duka yang luar biasa mendalam, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi seluruh warga adat Baduy Luar dan Baduy Dalam. Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai sosok tetua adat yang sangat bijaksana, teguh memegang prinsip leluhur (salaka domas), serta menjadi panutan utama dalam menjaga keharmonisan tatanan sosial dan pelestarian alam di Pegunungan Kendeng.
2. Peran Strategis Jaro Tanggungan 12 Sebagai Jembatan Komunikasi
Sebagai pemangku adat dengan jabatan Tanggungan 12, Jaro Saidi Putra memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam menjembatani hubungan antara komunitas adat Baduy dengan dunia luar, termasuk dengan instansi pemerintah, aparat penegak hukum, serta para tamu dari berbagai penjuru daerah. Ketegasan dan keluwesan diplomasinya membuat tradisi leluhur Baduy tetap terjaga di tengah arus modernisasi tanpa kehilangan esensi kearifan lokalnya.
3. Dedikasi Seumur Hidup dalam Menjaga Kelestarian Hutan dan Budaya
Almarhum dikenal luas sebagai pejuang lingkungan sejati yang konsisten menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian hutan larangan, sumber air, dan ekosistem alam dari ancaman kerusakan ekologis. Pesan-pesan moral dan falsafah hidup masyarakat Baduy tentang keselarasan manusia dengan alam yang sering ia sampaikan kepada publik akan selalu dikenang sebagai warisan spiritual yang tak ternilai harganya.
4. Suasana Duka Cita dan Ritual Penghormatan Terakhir dari Warga
Ribuan pelayat dari berbagai kalangan—mulai dari warga lokal, tokoh masyarakat, hingga pejabat pemerintah daerah—berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa mendalam dan memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Prosesi adat pengantaran jenazah dilangsungkan dengan khidmat sesuai dengan tatanan hukum adat istiadat Baduy yang sarat akan nilai spiritual dan kebersamaan komunal.
5. Menyongsong Estafet Kepemimpinan Adat di Tengah Tantangan Zaman
Berpulangnya Jaro Saidi Putra menandai berakhirnya sebuah era kepemimpinan tradisional yang sangat berpengaruh di tanah Lebak. Tantangan besar kini berada di pundak para generasi penerus dan tetua adat yang tersisa untuk melanjutkan estafet kepemimpinan, menjaga keaslian budaya, serta meneruskan komitmen teguh dalam merawat kearifan lokal Baduy di tengah dinamika zaman yang terus berubah.
Wafatnya Jaro Saidi Putra, tokoh adat sekaligus Jaro Tanggungan 12 Baduy, merupakan kehilangan yang sangat besar bagi warisan budaya nusantara. Keteladanan, kearifan, dan dedikasinya dalam merawat alam serta tradisi akan terus hidup dan menginspirasi generazi masa depan.

